Pengalaman Bercinta Di Kos Dengan Suasana Romantis

DuniaSex96Sebuah persinggahan dengan bunga-bunga yang bermekaran. ruang yang senantiasa mempermainkanku pada estetika yang memesona. Derai angin senantiasa mengantarkan harum mawar, sampai membuatku mabuk kepayang. Alangkah cantiknya daerah ini, alangkah saya berharap senantiasa di sini. SahabatQQ


Saya seorang yang masih jomblo pada persinggahan itu, sikap pendiam dan pemalu terngaung, menutup rasa cinta. mungkin suatu yang terpendam menyusun puncak es di hati. Beku, kian hari kian membatu. saya kian tak yakin seandainya suatu dikala gunung es itu sanggup mencair. Segala tahu sang surya senantiasa terbit dari arah timur ke barat bukan dari utara keselatan. Sehingga, es di kutub utara tidak akan pernah mencair.

Chelsy, nama itulah yang mendermaga di lubuk hatiku, ukiran nama Chelsy membekas di tiap sysraf-saraf otakku. Kamar yang berhadap-hadapan, latar itulah yang senantiasa memberiku kans bertatapan dengannya. Saya senantiasa rindu adegan itu, senantiasa membikin hatiku berbunga, kala mata kami bertarung dalam sebuah lingkaran. sampai menumbuhkan bercak-bercak cinta yang mendalam, serupa gulma di musim penghujan.

“Jek apa kau tak bosan hidup sendiri, Tanpa pernah menjalin kekerabatan dengan seorang wanita?” sebut sem.

Pertanyaan itulah yang senantiasa membuatku terdiam atau terpuruklah itu. Sepertinya, tak ada kata-kata yang bisa kurangkai untuk menjawab, sebab serba salah dan semuanya bego.

Hatiku bagaikan es di kutub utara yang tak tahu, kapan dapat mencair, sebab kian hari kian memuncak oleh kata-kata dan perasaan yang tidak dapat kucairkan pada sebuah daratan.

Saya benci pada diriku, menyesal hidup seperti ini. pengecut, pendiam, pemalu, sifat yang lumrah dimiliki seorang wanita, melainkan saya seorang lelaki yang selayaknya berani menyuarakan kata cinta pada seorang wanita. bukan pemalu dan cuma menunggu ungkapan cinta seorang bidadari.

“Hingga kapan?” teriakku. Saya tidak berharap hidup seperti ini. hidup dalam bayang-bayang cinta yang yang suram.

Kupandang hidupku kebelakang. Mengingat-ingat prilaku yang cuma membisu. waktu yang tak kugunakan, semuanya sia-sia. Ke kampus lalu tidur di kosan, kadang membikin kamar seperti pabrik, oleh gumpalan asap rokok yang tidak pernah stop, keluar-masuk dari mulutku.

Hari ini hari sabtu, libur di kalangan mahasiswa. Kosan terasa sangat sepi. penghuni kosan merasakan hari libur, menghilangkan kejenuhan oleh rumus-rumus, pengertian-pengertian, istilah-istilah dan ilmu-ilmu, selama lima hari berturut-ikut serta.



Bepergian atau berbelanja untuk menenangkan pikiran, bukan komponen hidupku. Ketika libur lazimnya kuhabiskan waktu untuk menulis puisi, membentuk nada-nada menjadi musikalisasi. cuma itulah yang bisa menghiburku. Bukan cuma pikiran namun hati yang telah membeku sekejap menikmati kehangatan oleh untayan kata-kata dan nada-nada yang mengalun dengan sendu. Sepertinya, mengucapkan kesendirian dan kejenuhanku. mungkin saja terhadap nyamuk atau kecoak yang senantiasa menemaniku.

Pada sebuah siang yang panas, saya memandang sosok seorang gadis, tiba-tiba jantungku bergemuruh. ya itu Chelsy. sepertinya ia berjalan menuju kamar mandi. mungkin sejenak lagi ia juga akan bepergian atau bersenang-bahagia, sebagaimana sahabat-sahabat yang yang lain. Sebentar kupandang sosok gadis itu, terpintas suatu pandangan baru dalam benakku, melainkan masih mengapung-apung. Sebab, untuk mengerjakannya dibutuhkan suatu keberanian. Kutenangkan jiwaku, kutepis seluruh rasa takut, kurangkai kata-kata yang mungkin kuungkapkan untuknya, dikala itu juga.

Kakiku mulai gemetar. kutuntun untuk melangkah keluar dari kamar kosan. kulihat sekeliling, sepertinya sepi. “Mungkin semuanya telah pada pergi.” Bisikku dalam hati. kudekati kamar mandi itu. kutunggu sampai celsy keluar.

Saat, berada di depan pintu kamar mandi, saya sempat barhayal. Mungkin kenekatanku itu akan membuatku malu seumur hidup, melainkan saya tak peduli soal itu, mungkin itu suatu perjuangan untuk meraih cinta.

Terlalu lama melamun, membuatku tersentak terkejut. memandang Chelsy telah dihadapanku. ia juga terkejut. dari raut wajahnya sepertinya ia malu, sebab tubuh mungilnya cuma ditutupi handuk lembutnya saja.

Kudekati dirinya kemudian kupegang tangannya lalu menariknya ke dalam kamar mandi itu lagi. Mulanya ia amat berontak, ia takut seandainya saya bertingkah senonoh pada tubuh cantiknya yang memesona, tetapi walhasil ia mulai hening, dikala saya berlutut di hadapannya dan menyuarakan seluruh isi hatiku kepadanyanya. Agen Domino99

Ia cuma dapat terdiam, mungkin ia terkejut atau naik darah atas kelakuanku yang di luar pikirannya. Melainkan, saya tidak perduli apa pendapatnya seputar diriku.

Sekarang es dikutub utara telah mencair, mengalir ke samudra-samudra, menggenangi segala rawa yang dahulu kering dan laut yang lama surut sudah penuh kembali. Mungkin panasnya bumi oleh asap pabrik, asap kendaraan dan hutan yang di botak para penebang-penebang liar.

Dalam suasana tenang itu, tiba-tiba bibir lembutnya memancarkan kata-kata yang amat berharga untukku.

“sebetulnya saya telah lama memendam perasaan yang sama denganmu, saya juga menyukai sama kau, saya telah lama menunggu masa-masa seperti ini.” sebutnya sedikit malu.

Jawapan yang demikian itu singkat, tetapi sudah menjawab seluruh teka-teki yang tidak pernah dapat terjawab olehku, malahan spesialis sekalipun. Cuma Celsylah yang dapat menjawabnya. dinasehatinya saya untuk berdiri, lalu kicium tangan yang kugenggam dari tadi. masih terasa harum, seperti mawar putih yang mekar di pagi hari.


“Saya pamit dahulu! jangan lupa, nanti malam kita ke taman, merasakan malam dan memandang bintang-bintang. saya akan menunjukan terhadap bulan, bintang, angin yang bertiup pada pohon-pohon, bahwa saya telah mencairkan puncak es di hatiku.”

Ia menjawabnya dengan anggukan dan senyuman yang lembut, dengan sedikit malu. kulihat sekeliling kosan masih terasa sepi. “Mungkin mereka masih asik merasakan hari liburnya.” Pikirku.

Saya lantas berlari menuju kamar. Dari jendela kamar itu, terus kupandangi bidadariku itu, seperti yang sering kali kulakukan sebelum cinta itu mencair pada sebuah daratan

Post a Comment

0 Comments